we can talk without words, so we can talk without lies.

kita bicara tanpa kata.

tanpa perlu menyambung potongan – potongan pikiran

dan menatanya menjadi rangkaian.

terlalu banyak spasi untuk keraguan

terlalu banyak ruang untuk kebohongan

jadi kita bicara tanpa kata.

 

toh kita sepakat,

dunia sudah terlampau bising,

sudah terlalu sesak dengan

lautan kata – kata,

yang tersesat, berkelintaran mengetuk

pintu rumah – rumah,

untuk berpulang dan didengar.

kita cukup bicara tanpa kata.

 

kita tidak perlu berebut panggung dan mikrofon,

atau berteriak, atau berbisik,

tak perlu peduli tentang koma, atau titik

tak perlu melempar tanda seru

atau menggantung di sebuah tanda tanya

kita tidak perlu merombak,

mempercantik kata – kata–buat apa?

kita akan biarkan pikiran kita, apa adanya

tanpa tambahan apa apa, tanpa polesan apa apa

kita bisa bicara tanpa kata.

 

Because then,

You don’t have to listen

And I don’t have to lie.

 

A/N: wrote this to appreciate a moment I had with someone, when subtle glances in between conversations are more meaningful than words surrounding us at that time. speaking of raw and authentic connection.

How to love your introvert, by Kevin Yang

2017-07-02 (5)

1.

We introverts are not always the best at breaking the ice,
so in order to get the ball rolling,
we often have to resort to tactics that
may seem obscure to your average extrovert.
This may include subtle clearings of the throat,
gentle hand gesturing, and numbers placed
carefully into routine conversations where
they normally do not belong.

2.

You may be asking yourself
“How can I be sure that I’m speaking to
an actual introvert and not someone simply
masquerading as one”, well,
here are a few tell-tale signs.
If the person wraps their arms around your shoulder
as they’re introducing themselves to you for the first time:
Probably not an introvert.
If the person uses the words “unwind” and “nightclub”
In the same sentence: Probably not an introvert.
If the person attempts to engange in
any conversation whatsoever about the weather
and they are not from Minnesota: Probably not an introvert.

3.

To set the record straight,
I do not hate people.
But I do get pretty damn tired of them sometimes.
Just pretend for a second that
my desire to socialise could be equated
to my desire to exercise.
This means that a quick jog around the block
would be a lot like
catching a cup of coffee with a friend,
bar-hopping with buddies would be like
finishing a 6-minute mile,
and my senior prom was a little bit like
running the iron-man in the middle of August.
Now you see, I don’t hate talking to people
any more than they hate a little bit of exercise
but you wouldn’t challenge an Olympian to a marathon after he just finished a race.
Understand that when I tell you I can’t hang out tonight,
I just came back from a poetry jam,
maybe it’s not because I hate you,
maybe it’s because I’m tired.

4.

There will be many times when you will be
uncomfortable in my silence, unsure of how I am feeling.
Understand, that just because I do not wear my heart
on my sleeve for everyone to see
does not mean that it beats any softer than yours.
Do not confuse the stillness of the lips
with the rhythm of apathy.
Do not confuse the sound of words rattling off, 80 beats per minute,
with the music of an actual conversation.
Just because I cannot commit the act of small talk
does not mean I don’t have huge things to say.
Just because I find peace within myself
does not mean I could ever stop wanting
to love so hard, because

5.

We introverts are not always the best
at breaking the ice,
so we often have to resort to tactics that
may seem obscure to your average extrovert
this may include subtle clearings of the throat,
gentle hand gesturing, and
writing an entire poem just to say

6.

I love you more than quiet trips to the library.
I love you more than cancelling Friday night plans.
Baby,
Baby, I love you more than Tumblr.
But when the world is shouting
far too loudly for us to hear our own voices,
and when these words cling
far too tightly to my own chest.
I just want you to know
that I love you,
I love you,
I love you.

-Kevin Yang

Button Poetry, Kevin Yang Stage Performance

side note: I FAINT IN ‘I love you more than quiet trips to the library, I love you more than cancelling Friday night plans’. Probably the most romantic line I’ve ever heard in my life.

the saddest song yet

a great big bang and dinosaurs
fiery raining meteors
it all ends unfortunately

but you’re gonna live forever in me
i’ll guarantee, just wait and see

parts of me were made by you
and planets keep their distance too
the moon’s got a grip on the sea

and you’re gonna live forever in me
i guarantee, it’s your destiny

life is full of sweet mistakes
and love’s an honest one to make
time leaves no fruit on the tree

but you’re gonna live forever in me
i guarantee, it’s just meant to be

and when the pastor asks the pews
for reasons he can’t marry you
i’ll keep my word and my seat

but you’re gonna live forever in me
i’ll guarantee, just wait and see

John Mayer’s You’re Gonna Live Forever In Me

Surat Kedelapan

Tanpa sengaja menemukan naskah ini yang sebenarnya adalah tugas Bahasa Indonesia kelas IX lalu, yang meminta siswa untuk menulis sebuah cerpen yang terinspirasi dari cerpen lain, tanpa ketentuan apapun kecuali diketik dengan TMR ukuran 12 dan tanpa spasi.

so here it is, setelah naskah melewati proses menyunting selama kurang lebih 3 jam agar lebih presentable:

SURAT KEDELAPAN

              “Aku serius! Baru pas menengok kebelakang, aku sadar salah satu bingkai jendela kamarku terlepas! Mungkin gara-gara aku terlalu semangat menyelamatkan diri.”

Maura kembali tergelak, makin keras bahunya berguncang karena tawa yang meledak. Sekilas rambut hitamnya yang memantulkan cahaya lampu menjelma bak arakan ombak yang merebak, membuat mataku terjebak pada riaknya yang bergantian meminta dibuatkan sajak.  “Jadi pas kerasa gempa, kamu langsung berdiri, nekat melompat menerobos jendela, terus lari begitu aja?”

Aku tidak keberatan ditertawakan, secara lantang, apalagi oleh Maura. Semakin lepas tawanya, semakin aku berbangga. Sekali lagi, aku mampu menaklukan kelabu di kedua matanya. Butuh berapa kali lagi aku berhasil membuatmu tertawa, Ra, sampai kamu bisa melihat kemungkinan aku di hidupmu? Sebelum aku yang terlanjur dan terlalu jatuh cinta di setiap ujung tawamu berubah gila, butuh berapa kali lagi, Ra? Kutelan tanda tanya itu dengan senyum pahit.

“Iya, aku sendiri nggak menyangka, refleksku terlalu bagus.” ujarku, mengiringi henti tawanya, menyambut senyuman di bibirnya. Aku melahap kembali makanan di hadapan, sementara Maura meraih segelas coca-colanya. Di balik dinding kaca restoran cepat saji ini, Malioboro terlihat begitu hidup. Pantulan cahaya lampu kendaraan, pertokoan, dan lentera di jalanan, dileburkan oleh barisan rintik hujan yang berlomba turun menuju daratan.

Setelah hujan mereda dan kami selesai mengenyangkan perut, aku—seperti enam pertemuan sebelumnya, mengantar Maura pulang. Jalan-jalan kali ini akhirnya tiba pada penghujungnya yang kubenci. Sebuah repetisi yang tak bisa kuhindari. Bukan, bukan karena waktu yang berjalan terlalu cepat, tetapi karena ketika aku berdiri di depan gerbang rumah Maura, yang kudapat darinya adalah sepucuk surat beramplop biru, tertulis “Untuk Marco”, kakak lelakiku. Dengan muak yang entah sebesar apa, aku memaksakan senyum, menahan dorongan kuat untuk membuang surat itu di hadapan Maura, agar ia tahu, aku dan Marco adalah dua sisi sebuah koin. Meminta Marco hadir sama saja seperti memintaku pergi, dan untuk sementara, hingga sampai kapan, koin itu kusimpan jauh – jauh dari tangan Maura yang sudah dipastikan, tanpa pikir panjang, lebih memilih sisi koin itu dibalikan.

“Bu, saya pulang.” seruku setelah memutar kenop pintu. Aku mendengar suara ibu yang menyambutku. Beliau keluar dari kamar dan khusus untuk tiap kepulanganku dari Maura, kepadaku, dijatuhkannya sorot mata yang selalu sama; seperti hendak mengasihaniku. Ibuku memang terlalu banyak tahu soal isi hatiku.

“Itu, kalau mau makan ada rendang di meja.”

Aku mengangguk.

Sebelum beliau berkata lebih jauh lagi, aku segera menyalami tangannya, lalu berjalan cepat ke gudang belakang rumah. Suara berderit pintu gudang menjadi begitu akrab di telingaku. Amplop biru itu kulemparkan ke sebuah kardus usang, bergabung bersama keenam surat lain yang terlebih dahulu menghuni sudut gelap itu. Ya, surat-surat itu tidak pernah sampai kepada Marco, walaupun sebenarnya ada kantor pos yang hanya berjarak 100 meter dari rumahku. Jujur saja, bahkan apabila kantor pos itu pindah tepat ke samping rumahku, surat – surat ini akan tetap berada di pojok berdebu itu. Akan kukatakan mengapa.

Selama ini aku menjadi obat bagi Maura atas ulah kakakku itu. Marco sering terlibat tawuran besar antar mahasiswa, dan malang bagi Maura, karena statusnya sebagai pacar Marco, suatu kali perempuan itu terseret menjadi korban. Selain terkena lemparan batu nyasar hingga membuat dahinya berdarah, Maura terpaksa menjadi saksi pengeroyokan yang dialami Marco oleh sekelompok geng anarkis. Seakan belum cukup menakutkan, Maura juga sempat menjadi sekapan lawan dan diperlakukan macam piala kemenangan.

Peristiwa itu membekaskan trauma berat pada Maura yang pasca kejadian harus rawat jalan, dan setelah itu pula menjalani hari – hari penuh kecemasan yang tak beralasan. Orangtua Maura menurunkan ultimatum, tidak boleh ada lagi nama Marco, baik di daftar kontak ponsel putrinya, apalagi periode – periode hidupnya. Sementara Ayah secara kebetulan meneguhkan ultimatum tersebut dengan membawa Marco ke Malang, sebagai langkah antisipasi sekaligus sanksi atas ulah putranya yang terjadi berkali – kali.

Lalu bagaimana aku bisa terlibat dalam pusaran masalah ini?

Aku dan Marco kembar, tapi hanya wajah saja. Untuk sifat, kami berlawanan. Marco adalah seorang jagoan, menjadikan adu kekuatan sebagai hobi, menganggap balap motor sebagai ajang pembuktian diri. Sementara aku adalah kebalikan dari Marco. Fotografi dan menulis kujadikan hobi, sementara nilai akademis dan kesuksesan menjadi panitia berbagai acara adalah caraku unjuk gigi.

Mungkin perkara wajah yang sama membuat orangtua Maura sering memintaku untuk menemani Maura. Bagi orangtua Maura, aku adalah psikiater yang diharapkan mampu memulihkan putri mereka, pertemuan demi pertemuan. Bagi Maura, aku adalah tukang pos yang diharapkan bisa menyampaikan surat – surat cintanya ke tangan Marco, sekaligus teman sementara untuk mengisi kekosongan. Barangkali Maura merasa, bersamaku, sama saja seperti bersama Marco, minus perjalanan motor yang kebut – kebutan dan asap rokok yang menyesakkan. Aku sendiri suka ragu, untuk siapa senyuman yang sering Maura perlihatkan saat bersamaku. Untukku, atau untuk Marco?

Aku tidak berminat untuk tahu jawabannya.

Dan tidak, Maura tidak tahu soal 332 kilometer yang membentang diantara ia dan Marco, ia mengira bahwa Marco masih di Jogja, hanya pindah kampus yang sengaja dirahasiakan tempatnya, dan karena rasa bersalah, selalu enggan menemuinya. Akupun tidak punya niatan untuk menyangsikan dugaannya. Akulah jarak yang memenggal usaha Marco untuk memperbaiki kesalahannya, dan yang menghempaskan harapan Maura untuk kembali bertemu dengannya. Bukan daratan antara Malang dan Jogja. Jogja akan dianggap sedekat beberapa langkah kaki oleh Marco apabila ia tahu Maura memaafkannya dan masih mencintainya. Kepada Maura, ia akan berlari.

***

              “Ombak itu fenomena alam yang paling romantis.”

Kalimat itu terucap dari bibir Maura di suatu senja di Pantai Siung. Saat itu kami berdua sedang duduk di tepi pantai, memandang sang surya bercermin pada laut di hadapan, sebelum akhirnya menyentuh garis horizon, dan tenggelam pada bayangannya sendiri.

“Kenapa?”

Maura terdiam sejenak, memilih – milih kata, “Aku suka bagaimana ombak selalu berusaha meraih pesisir pantai walau ia selalu tertarik mundur tiap ia sampai. Aku ingin suatu saat seseorang juga seperti itu padaku. Tidak menyerah padaku.”

Aku menelan ludah, Maura sedang mengeluh tentang Marco, yang hingga kini, menurutnya, sudah tidak memperjuangkannya lagi. Andai ketujuh surat dari Maura sampai pada Marco, sudah dipastikan Marco kabur jauh-jauh hari dari Malang untuk bertemu perempuan di hadapanku ini.

“Ini.” Maura menyerahkan sebuah amplop biru lagi padaku. Wajahku berubah masam. Segera kujejalkan surat itu pada ransel, enggan mempermasalahkannya lagi. Bersama dengannya, kubelah kesunyian malam dengan deru motorku, mengantarnya pulang. Dalam hati kuputuskan, aku dan Maura harus berakhir di pertemuan kedelapan.

***

              “Gue nggak percaya lo sebusuk itu!!”

Kepalan tinju Marco berhasil kuhindari dengan hanya berselang sepersekian detik. Tembok disampingkulah yang menerima hantamannya, hantaman yang membuat telingaku berdenging, hantaman yang barangkali hanya butuh dua sampai tiga kali ayunan untuk merobohkan tembok yang menopang tubuhku. Aku membeku, terkesima. Apakah Kakakku sebegitunya membenciku sampai tega melemparkan tinjuan sekeras itu kepada adiknya sendiri?

“Maksud lo apa?!” Marco mengacungkan amplop-amplop biru yang ia genggam di tangan kirinya. “Tega lo?! Tega sama kakak sendiri?!”

“Maaf, Kak.” jawabku, tegas, tak sungguh-sungguh meminta maaf.

“Kenapa? Kenapa lo melakukan ini?! Dendam sama gue? Benci sama gue?” Kedua matanya menjelma hitam kelam, seperti jenggala, hasil dari kobaran api amarahnya.

“Karena Kak, aku yang selama ini mengobati Maura dari luka dan trauma yang Kakak tinggalkan padanya. Aku, yang selama ini kembali mengajarinya untuk tersenyum setelah semua bahagianya terenggut oleh ulah Kakak. Aku, yang selama ini ada dan tidak berbalik badan seperti yang kakak lakukan padanya. Aku yang tahu caranya menjaga dan memperlakukan Maura, bukan Kakak… Aku yang mencintai Maura.”

Marco terpaku, rahangnya makin mengeras tapi ia hanya terdiam. Kurasa bukan hanya aku yang terpana dengan pengakuan lantang barusan. Marco mengambil satu langkah mundur. Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku bergegas pergi, meraih kunci motor, mengabaikan Marco yang masih berdiri di ruang tamu, mengabaikan Ibu yang mengintip di balik tembok dapur.

Dan mengabaikan kejatuhan terakhirku yang diiringi satu kalimat pamungkas dari Marco tepat sebelum aku membanting pintu.

“Tapi gue yang dicintai Maura.”

***

              Aku mengendarai motorku tanpa tujuan. Kemana saja kegilaan ini akan membawaku, aku akan mengikutinya tanpa pikir panjang. Belok kanan, lurus, belok kiri, entah dimana aku sekarang. Jam tanganku menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, belum terlalu larut. Jogja masih terjaga, warga-warganya masih asyik berbincang sambil melepas lelah, di bawah tenda angkringan, di dalam café, di warung-warung makan dan restoran cepat saji. Aku memutuskan untuk menepi. Helm kulepas, kugantungkan pada motor. Pikiranku tak karuan. Aku baru sadar pada kehadiran segerombol lelaki yang berjalan menuju arahku ketika mereka hanya berjarak beberapa meter dariku. Awalnya aku tak curiga sampai tahu-tahu salah satu dari mereka berlari cepat dan menarik kerah bajuku.

“Apa apaan?!”

“Marco…Marco, kemana aja lo, pengecut? Lo punya tanggungan janji. Selesaiin sekarang, berani?!” teriak seorang dari mereka terkekeh. Belum sempat aku bicara, gerombolan lelaki itu sudah menghajarku habis-habisan. Motorku terhempas ke aspal bersama tubuhku, dan aku hilang kesadaran.

***

              Ini hari ketiga aku dirawat di rumah sakit. Aku cukup beruntung, hanya jahitan kecil di belakang kepala, dan memar sana-sini. Pagi itu Maura akhirnya mengunjungiku, terbata-bata aku menjelaskan padanya, bahwa Marco sudah berada ke Yogya, bahwa lelaki yang dinantinya sudah pulang juga setelah mendapat izin ayah untuk menghabiskan libur semester di kampung halamannya. Bahwa aku meminta maaf karena selama ini aku sudah berbohong padanya, dengan menyembunyikan surat-suratnya untuk Marco. Bahwa aku brengsek. Bahwa aku sudah gila untuk berfikir bahwa Marco bukan untuknya padahal selama ini mereka saling menanti.

Maura terdiam, terlalu lama. Sudut matanya perlahan basah. Aku menelan ludah, menyiapkan diri untuk cacian dan makian apapun dari bibirnya.

Tapi alih – alih mencercaku, Maura malah menanyakan sesuatu yang tak kuduga. “Dimana surat kedelapan itu?”

“Masih di dalam ransel tasku, belum sempat aku keluarkan.” jawabku bingung.

Maura kemudian melirik ranselku yang bersandar di bawah tempat tidur, “Kamu belum membacanya?”

Aku memicingkan mata, heran, “Buat apa aku membaca surat cintamu untuk Marco?”

“Coba kamu lihat baik-baik lagi.” Maura membuka tasku, mengeluarkan amplop biru yang sudah terlipat tak karuan karena aku memasukkannya asal-asalan.

Aku membuka lipatan – lipatan itu perlahan, dan apa yang terpampang di atas amplop itu membuatku berpikir aku sedang berdelusi. Jantungku hendak mencelos ketika akhirnya aku sadar, mataku sedang mengatakan yang sejujurnya. Kemarin aku tak berminat melirik tulisan di amplop biru itu karena aku sudah menganggap surat ini tak ada bedanya seperti ketujuh surat awal yang selalu didekasikan untuk Marco. Tapi ternyata aku salah besar.

Surat kedelapan ini adalah surat untukku.

Maven, sekarang aku sudah melihatmu. Tanpa bayang-bayang dari Marco. Maven, sekarang aku mencintaimu. Tanpa ingatan soal masa lalu.

Dan untuk pertama kalinya, sesak dadaku kali ini bukan karena muak, tetapi karena kebahagiaan yang berduplikat.

“Janji sama aku, surat-surat yang kamu tulis seterusnya cuma buat aku seorang. Aku gak kuat jadi tukang posmu lagi. Makan hati.”

Maura tertawa.

Dan entah bagaimana tawanya kali ini terdengar seperti sebuah jawaban yang berbunyi,

“Ya, Ven, aku bisa melihat kamu di hidupku”

-fin-

Inspired by the work of the talented Yusrina Pradipta, “Mauren” (2008)

a casual 11:52 pm rambling

I, am girl who has deadlines for tomorrow, and as every smart responsible girl does,

I distract myself with stuffs from my bedroom

And I, am a sentimental girl, and as every melancholic girl does,

I open a memory box, full of

stories, in form of

faded movie tickets,

heart warming hand-written notes,

silly photos,

dried roses,

torn papers,

and a book.

Well I, am a girl who writes, and as every wannabe novelist does,

I surely had, poured out everything my heart told me to, in that book.

It is a A5 standard size book, with a yellow sticker on the cover that says “Smile”, and on page one, written by yours truly, “Open when you need some magic, or when you should keep some.” “Things that makes me happy and grateful in 2014”

So,

1.

A happy new year text from you.

7.

An afternoon walk down the street with you.

20.

A stolen gaze at school with you.

23.

A snippet of you saying ‘You are one of a kind’ and ‘You are cute when you’re scared.’

32.

A ticklish nervous feeling after admitting to my friends that I kinda like you.

35.

An aching-not-so-good period of falling in love with you.

41.

An ‘are you still sick? stay at home.’ text from you.

47.

Another playful caring ‘I will be so mad if you ended up tiring yourself and get sick again’ text from you.

56.

A chocolate wrap. And a ‘Here’s to make your smile returns’ from you.

60.

A photo of my hand, holding a very unexpected birthday present from you.

72.

The thought of you.

89.

A piece of our chat the night before, when I was being way too honest and anxiously admitted that I kinda like you, to you.

93.

Another thought of you.

98.

An “I’ll wait, I’ll wait for you.” promise from you.

 

And I can’t remember, whether I

stopped writing, or

you stopped caring,

there’s no ‘you’ no more.

 

And as I close the book, put in back into the box,

and turn off my bedroom lamp before I leave the room,

I decided to go with a third option:

Maybe,

I never wanted to stop writing, and

you never intended to stop caring,

but somehow both of us stopped working

So I stop writing,

as you stop caring.

a confession

You wondered why my hands are cold, why I kept tucking

my fingers tightly to my red sweater

even after you shut your car door,

raised up the AC temperature, so

You blame the night air, while

I blame my skinny body

 

Let it be my little secret—that you will probably learn by yourself

by the time we spend so much more time together

 

Dear you, my hands get cold

when I’m anxious,

and God, every second you are near me,

My heart turns into a little kid

who’s embracing her first roller coaster ride